Ticker

6/recent/ticker-posts

MERAIH KESUKSESAN DENGAN PERCAYA DIRI



Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Setiap orang pada dasarnya selalu mendambakan kesuksesan dalam segala kehidupannya, baik lahir maupun batin. Dalam pandangan ajaran Islam, meraih kesuksesan harus diawali dengan sikap percaya diri dan bertawakkal kepada Allah s.w.t.. Setiap orang muslim tidak menganggap tawakkal hanya sebagai keharusan semata, melainkan juga merupakan suatu kewajiban agama yang mengakar pada akidah Islam. 

Dalam al-Qur’an diperintahkan agar bertawakkal kepada Allah, apabila ingin memiliki iman yang tinggi. “… Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". (QS. al-Maidah, 05:23). Setiap pribadi muslim harus mengarahkan sikap tawakkalnya hanya kepada Allah saja, tidak pada yang lain. Dalam tawakkal itulah terdapat sikap percaya diri yang teguh untuk meraih segala sesuatu yang diharapkan.

Sikap tawakkal sering disalah-pahami oleh sebagian umat Islam, dengan berserah diri kepada Allah, tanpa disertai usaha yang sungguh-sungguh. Padahal, penyerahan diri kepada Allah itu harus dilakukan setelah berusaha secara maksimal, baik disertai dengan aktivitas lahiriah, maupun batiniah. Aktivitas lahiriahnya berupa bekerja dengan tekun dan aktivitas batiniahnya berupa permohonan dan doa yang tulus kepada Allah s.w.t.. 

Setiap orang muslim yang memahami ajaran agamanya, tidak akan berobsesi untuk meraih suatu apapun tanpa melakukan upaya dan usaha. Selanjutnya, memperhatikan faktor-faktor penyebab untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Tawakkal yang sesungguhnya adalah berupa amal, aktivitas, dan harapan yang disertai dengan ketentraman hati dan ketenangan jiwa. Ia meyakini dengan sesungguhnya bahwa segala apa yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. pasti akan terjadi. Dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak mungkin terjadi.

Allah s.w.t. tidak mengabaikan dan menyia-nyiakan setiap diri manusia yang berbuat kebajikan. Seorang muslim meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta adalah mengikuti sunnah-Nya. Berdasarkan hal itulah, maka ia harus mengikutinya. Dengan demikian, keinginan untuk meraih sesuatu, diarahkan agar mengikuti dan memenuhi persyaratan sebagaimana lazimnya. Semua itu berdasarkan faktor sebab dan akibatnya. 

Seorang muslim memahami faktor penyebab itu bukan merupakan jaminan bagi kesuksesan yang didambakannya. Sesungguhnya faktor penyebab itu merupakan suatu aktivitas yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. agar diikuti dan dijalani. Karena itu, setelah ia berusaha maksimal dan berupaya dengan sungguh-sungguh, ia memasrahkannya kepada takdir Allah s.w.t.. Karena sesungguhnya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, pasti terjadi, dan segala yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi. 

Betapa banyak orang yang menanam berbagai macam tanaman, tetapi tidak memanen hasilnya. Padahal, berbagai upaya dan usaha telah ditempuh. Memperhatikan kenyataan ini, maka apabila seorang muslim telah berusaha maksimal dan mengupayakan suatu keinginan yang sungguh-sungguh, kemudian belum berhasil, maka tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, ia harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk meraih segala sesuatu yang dicita-citakannya di masa yang akan datang. 

Rasulullah s.a.w. dalam berbagai usahanya tidak pernah melalaikan faktor penyebab yang harus dipenuhi agar cita-citanya tercapai. Dalam peperangan misalnya, beliau tidak pernah melakukannya sebelum mempersiapkan faktor-faktor untuk mencapai kemenangan dalam perang tersebut. Beliau mempersiapkan pasukan yang tangguh, alat-alat perang, perbekalan, mencari tempat yang strategis dan waktu yang tepat. Beliau tidak pernah melakukan penyerangan pada saat terik panas matahari, tapi beliau menunggu kondisi yang tepat, yaitu pada saat hari mulai sejuk. 

Pada saat beliau telah mempersiapkan segala sesuatu dalam peperangan itu dengan sempurna, lalu beliau bergerak memerangi musuh. Itupun dilakukan sambil berdoa:

اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ù…ُÙ†ْزِÙ„َ الْÙƒِتَابِ، ÙˆَÙ…ُجْرِÙŠَ السَّØ­َابِ، ÙˆَÙ‡َازِÙ…َ الْØ£َØ­ْزَابِ، اهْزِÙ…ْÙ‡ُÙ…ْ ÙˆَانْصُرْÙ†َا عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ…ْ

Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, yang menggerakkan awan, dan Yang menghancurkan golongan-golongan (musuh), kalahkanlah mereka dan berikanlah pertolongan pada kami dari mereka. (HR. Bukhari, 2965).

Pada saat Rasulullah s.a.w akan berhijrah, beliau mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, antara lain (1) menjadikan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai teman perjalanannya, (2) menyiapkan perbekalan, baik makanan maupun minuman, (3) menyiapkan unta yang terbaik, karena perjalanannya jauh dan berat, (4) menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengenal betul seluk beluk perjalanan ke Madinah. 

Ketika dikepung di rumahnya oleh musuh, beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib agar tidur di tempat tidurnya untuk mengelabuhi musuh. Ketika beliau berangkat dari rumahnya dan dikejar oleh musuh-musuhnya, beliau bersembunyi di gua Tsur. Beliau terus memperhatikan persiapan-persiapan selanjutnya untuk berangkat dari gua Tsur ke Madinah. Akhirnya beliau selamat memasuki kota idaman yang menjadi pusat dakwah Islam. Di Madinah beliau disambut dengan rasa haru dan bahagia. Dari sanalah kemudian beliau melaksanakan dakwah ke berbagai penjuru dunia.

Posting Komentar

0 Komentar