Ticker

6/recent/ticker-posts

Jongos-Jongos Soros? Ketika Candaan Bennix Berubah Menjadi Pertanyaan Geopolitik



Di era media sosial, istilah-istilah keras sering lahir sebagai bahan candaan, sindiran, atau sekadar strategi memancing perhatian. Salah satunya adalah ungkapan “anjing-anjing Soros” yang kerap dilontarkan Bennix dalam berbagai kontennya. Banyak orang menganggapnya sebatas satire digital: kasar, provokatif, tetapi tidak perlu dianggap serius.

Namun ketika isu ini ditelusuri lebih dalam, ternyata pembahasan mengenai jaringan George Soros bukan sekadar teori liar internet. Di banyak negara, terutama dalam lingkaran politik nasionalis dan konservatif, nama Soros telah lama menjadi simbol dari perdebatan besar tentang globalisme, demokrasi liberal, dan pengaruh asing terhadap arah kebijakan suatu negara.

Karena itu, persoalannya sesungguhnya bukan pada istilah “anjing Soros”, “jongos Soros”, atau label emosional lain yang beredar di media sosial. Istilah-istilah tersebut hanyalah ekspresi politik dari kubu tertentu. Yang jauh lebih penting untuk dibahas adalah substansi di balik tuduhan itu:

Apakah benar terdapat jaringan pengaruh global yang bekerja melalui pendanaan NGO, media, kampus, riset, aktivisme, dan organisasi masyarakat sipil?

Menariknya, isu ini bukan sesuatu yang sepenuhnya tersembunyi. Melalui jaringan filantropinya, Open Society Foundations (OSF), George Soros secara terbuka mempublikasikan berbagai program hibah dan pendanaan global mereka. Nilainya mencapai miliaran dolar dan disalurkan kepada ribuan organisasi di berbagai negara.

Indonesia pun beberapa kali masuk dalam peta pendanaan tersebut. Nama-nama seperti Kurawal Foundation, CELIOS, LBH Masyarakat, Watchdoc, sejumlah pusat riset kampus, hingga berbagai jaringan media dan organisasi advokasi sipil kerap disebut dalam diskusi publik mengenai pengaruh OSF.

Di titik inilah narasi Bennix mulai menemukan konteks geopolitiknya.

Kaum nasionalis umumnya tidak mempermasalahkan keberadaan NGO ataupun kegiatan sosialnya. Yang dipertanyakan justru adalah batas antara kerja sosial dengan pembentukan arah opini publik dan pengaruh politik jangka panjang.

Sebab dalam praktik geopolitik modern, pengaruh tidak selalu hadir dalam bentuk intervensi militer atau tekanan diplomatik terbuka. Pengaruh bisa bekerja jauh lebih halus: melalui hibah penelitian, pembiayaan media, penguatan isu HAM, demokrasi, lingkungan, kebebasan sipil, hingga pembentukan cara pandang generasi muda.

Model Open Society sendiri memang memiliki fondasi ideologis yang kuat. George Soros banyak dipengaruhi pemikiran filsuf Karl Popper dalam buku *The Open Society and Its Enemies*. Intinya, dunia dianggap akan lebih stabil jika masyarakat bersifat terbuka, negara tidak terlalu dominan, perdagangan bebas diperluas, kebebasan sipil diperkuat, dan nilai HAM dianggap universal lintas batas negara.

Di atas kertas, konsep itu terdengar ideal dan progresif.

Namun geopolitik tidak pernah sesederhana teori akademik.

Masalah muncul ketika gagasan universal bertemu dengan identitas lokal yang memiliki sejarah, budaya, agama, dan kepentingan nasional masing-masing. Bagi kaum nasionalis, negara bukan sekadar ruang ekonomi global yang dapat diatur seperti spreadsheet internasional. Negara adalah memori kolektif. Negara adalah identitas sejarah. Negara adalah karakter bangsa yang tidak selalu bisa diseragamkan atas nama universalitas.

Karena itu, benturan yang terjadi sebenarnya bukan sekadar “pro-Soros” versus “anti-Soros”. Yang sedang bertarung adalah dua cara memandang dunia:

Globalisme melawan kedaulatan nasional.

Tak heran jika sejumlah negara seperti Rusia, China, Turki, hingga India pernah mengambil sikap keras terhadap jaringan Soros atau organisasi yang dianggap terkait dengannya. Mereka memandang pengaruh filantropi global bisa berkembang menjadi instrumen politik lintas negara.

Namun di sisi lain, para pendukung Open Society menilai tuduhan tersebut berlebihan. Bagi mereka, jaringan Soros justru membantu memperkuat demokrasi, transparansi, kebebasan sipil, hak asasi manusia, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Dalam perspektif ini, pendanaan NGO dipandang sebagai bagian dari pembangunan masyarakat sipil, bukan operasi politik tersembunyi.

Di sinilah publik perlu bersikap kritis sekaligus rasional.

Karena istilah seperti “jongos Soros” pada akhirnya hanyalah bahasa politik, bukan kesimpulan akademik final. Label bisa menyesatkan bila tidak disertai data dan analisis yang objektif.

Yang seharusnya diteliti secara serius bukan sekadar siapa yang memakai label itu, melainkan:
Bagaimana aliran dananya bekerja? Bagaimana jaringan pengaruh dibentuk? Narasi apa yang diproduksi?

Dan bagaimana hubungan antara ideologi, uang, media, serta kekuasaan saling terhubung dalam sistem global modern. Sebab perang di era sekarang tidak selalu datang dengan tank dan peluru.
Kadang ia hadir melalui penelitian, Melalui hibah, Melalui media, atau Melalui aktivisme.

Dan pengaruh paling kuat sering kali bukan ketika seseorang dipaksa mengikuti kehendak tertentu, melainkan ketika ia merasa bahwa kehendak itu lahir dari pikirannya sendiri.


Posting Komentar

0 Komentar