Jauh hari sebelum riuh-rendah “konflik” PBNU mengemuka ke permukaan, Gus Yahya sudah hilir mudik bertemu Kiai Afif. Perjumpaan demi perjumpaan dilalui dengan intensitas obrolan yang cukup berat dan privat. Saking privatnya, acapkali majlis perjumpaan hanya diisi oleh beliau berdua saja. Bahkan Nyamuk dan cicak di didinding pun tidak diizinkan untuk mendengar isi obrolan tersebut.
Intensitas perjumpaan semacam ini sangat wajar dalam kapasitas santri dan kiainya (Syuriah dan tanfidz). Apalagi ikatan emosional beliau berdua cukup dekat. Kedekatan inilah yang membuat Gus Yahya acapkali “memberikan sesuatu” kepada kiai Afif. Pemberian yang secara terselubung bisa mendorong Kiai Afif membela dan berpihak kepada kakak Kandung eks menag periode tahun kemarin.
Hukum sosial mengatakan, “manusia ialah budak dari kebaikan”. Menurut hukum ini, semestinya seseorang berpihak kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya. Pada biasanya, beginilah hukum sosial bekerja. Akhirnya, karena hukum sosial ini, banyak orang kehilangan obyektifitasnya. Saking tidak obyektifnya, kaidah usul fikih dikatakan bukan kaidah,upss!
Tapi tidak dengan Kiai Afif. Ikatan emosional, negosiasi, bahkan materi tidak bisa menggoyahkan komitmennya untuk berpihak pada kebenaran. Kebenaran yang sudah sampai di level haqqul yaqin (extra qat’i). Menjadi tidak logis bila apa yang sudah di level haqqul yaqin kemudian dibantah dengan hal-hal yang bersifat dzaniyah. Apalagi tahunya hanya dari postingan-postingan di media sosial.
Lagi pula, “mustahil” orang seperti kiai Afif mengambil langkah yang salah. Sosok yang saya tahu betul sangat takut dengan dosa walau sebesar debu kosmik. Saking takutnya, Kiai Afif tidak pernah lagi naik sepeda motor dari rumahnya ke Ma’had Aly yang jaraknya tidak lebih dari 300 meter. Beliau berhenti naik sepeda motor karena undang-undang mengharuskan seseorang menggunakan helm walau jalan yang dilalui berupa gang sempit di plosok dusun.
Ini soal helm, apalagi soal AD/ART….
@Doni Ekasaputra

0 Komentar