Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Dalam kehidupan bermasyarakat, dijumpai berbagai macam kehidupan, baik yang dianggap sukses, maupun yang dianggap gagal. Sebagian dari kita ada yang menganggap bahwa kesuksesan seseorang terletak pada kekayaan yang dimilikinya. Sebagian lain menganggap bahwa kesuksesan seseorang terletak pada jabatan dan kedudukan yang tinggi. Kelompok lain menganggap keberhasilan seseorang terletak pada kehidupan yang sederhana, tetapi sebagian besar kebutuhannya tercukupi.
Memperhatikan kenyataan ini, ada sebagian orang yang selalu mengeluh dan berpikiran sangat kerdil, karena ia tidak memperoleh kekayaan yang banyak atau kedudukan yang tinggi. Sesungguhnya nikmat, rahmat, dan karunia yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah hampir sama, perbedaannya sedikit sekali. Ada orang memperoleh kekayaan, tapi tidak memiliki ilmu yang tinggi. Ada yang memiliki ilmu yang tinggi, tapi rizki berupa materinya sangat terbatas.
Apabila kita memperhatikan dengan sikap yang lebih dewasa, maka akan menyadari, bahwa siapapun di antara kita pasti akan memperoleh karunia yang telah ditakdirkan oleh Allah s.w.t.. Apabila mereka bersyukur, pasti akan merasakan kebahagiaan yang tinggi, bagaimanapun bentuk rizki yang diperolehnya. Sukses atau gagalnya seseorang, tergantung pada rasa syukurnya, juga tergantung pada nilai kesabaran yang dimilikinya.
Kalau kita mau memperhatikan dengan seksama, maka akan segera dijumpai bahwa sesungguhnya rahmat dan karunia Allah itu diberikan kepada semua makhluk-Nya dengan merata, perbedaannya sangat sedikit. Marilah kita mencoba memperhatikan dan menghitungnya. Karunia dan nikmat Allah yang paling agung (1) adalah nikmat iman dan Islam. Semua orang memperoleh nikmat ini apabila ia menghendakinya.
Nikmat dan karunia yang agung (2) adalah nikmat kesehatan. Semua orang memperoleh nikmat ini, asal dia bisa mensyukurinya dan dia menjaga karunia itu dengan baik. Kesehatan bukan hanya milik orang-orang kaya atau berpangkat, tetapi ia juga merupakan milik orang-orang miskin yang hidupnya dalam kesederhanaan.
Nikmat selanjutnya (3) berpusat pada dorongan perut, yaitu kenikmatan dalam mengonsumsi segala macam makanan. Nikmat inipun dimiliki oleh semua orang. Kenikmatan mengonsumsi makanan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang berduit, tapi dimiliki oleh semua orang. Letak kenikmatan di sini berada pada kondisi orang tersebut. Apabila ia sehat dan merasa lapar, pasti akan menikmati makanan apa adanya, meskipun tidak memiliki uang yang banyak.
Kenikmatan dalam hal mengonsumsi makanan terletak pada kondisi orang perorang. Apabila seseorang telah merasa lapar, maka ia akan merasakan nikmat dari mengonsumsi makanan tersebut. Karena itu, kunci untuk memperoleh kenikmatan dalam mengonsumsi makanan, adalah di kala lapar. Nikmat berikutnya (4) adalah dalam menyalurkan libido seksual. Semua orang memperoleh nikmat ini asal dijalankan dengan baik, sesuai dengan tuntunan agama, yaitu dengan pernikahan yang sah.
Kenikmatan dalam bidang itu tidak hanya dimiliki oleh orang-orang kaya, orang-orang berpangkat dan berduit, tapi dimiliki oleh semua orang. Orang-orang kaya melaksanakan acara pernikahan dengan biaya ratusan juta, sedangkan orang miskin melaksanakan acara pernikahan itu dengan dana yang sangat kecil. Tapi keduanya sama-sama berbahagia, keduanya sama-sama menikmati bulan madu. Berbulan madu itu, boleh saja tempatnya berbeda, di hotel yang mewah atau villa di gunung-gunung, atau di rumahnya yang sangat sederhana. Mereka berbulan madu dengan pengalamannya masing-masing.
Karunia nikmat yang lain, juga sama-sama dirasakan oleh setiap orang. Karena itu, apabila kita memperoleh karunia Allah dalam kehidupan kita, harus senantiasa bersyukur. Ada orang memperoleh rizki berupa harta melimpah, ada orang lain yang memperoleh rizki bukan berupa harta, tetapi berupa ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan. Allah s.w.t. membagi rizki kepada makhluk-Nya dan itulah yang paling tepat. Karena itu, kita tidak boleh merasa iri terhadap rizki yang diperoleh orang lain, apapun bentuk dan wujudnya.
Semua orang harus membimbing dirinya, keluarga, dan masyarakat untuk senantiasa bersyukur kepada Allah s.w.t.. Karena Dialah yang Maha Bijaksana dan Maha Kasih terhadap makhluk-Nya.
أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. al-Zukhruf, 43:32).

0 Komentar