Di pondok ini, di bawah langit Lirboyo yang sama, Jam’iyyah dan jamaah berkumpul bukan sebagai pihak yang berseteru, melainkan sebagai keluarga besar dalam ikatan rindu akan kedamaian. Di sini, dalam keheningan doa dan gelora musyawarah, kita sama-sama mencari jalan terbaik untuk organisasi yang kita cintai: Nahdlatul Ulama.
Hampir tak terlihat ada yang masih ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Sebaliknya, yang ada adalah wajah-wajah penuh harap, tangan yang terbuka, dan hati yang siap mendengar. Kita semua datang dengan satu tujuan: mengutuhkan kembali.
Lihatlah, betapa hangatnya kebersamaan ini. Dari seluruh penjuru negeri, dari pesantren hingga pengurus cabang dan wilayah, mereka datang. Tercatat 547 jam’iyyah menyatukan hati hadir secara langsung, berjabat tangan, berpelukan, dan menyapa dengan mata yang bersahabat, sementara 197 orang menyambung dari layar zoom, mengabarkan bahwa jarak tak pernah memutuskan ikatan.
Mereka mewakili 36 provinsi suara Nahdlarul Ulama Indonesia yang lengkap, berziarah ke Lirboyo untuk mencari solusi.
Dan di penghujung istighosah yang syahdu, ada sepatah doa dari Kyai Kafabih Mahrus yang membuat haru semua yang hadir:
“Semoga masalah NU selesai di Lirboyo. Puncaknya di Lirboyo. Setelah dari sini, tidak ada lagi masalah.”
Kata-kata itu disambut oleh gemuruh “Aaamiiin” yang menggetarkan hati, sebuah ikrar bersama yang terucap dari relung jiwa paling dalam.
Ini bukan hanya tentang angka. Ini tentang niat tulus, tentang doa yang dipanjatkan bersama, dan tentang keyakinan bahwa dari Lirboyo ini, kita akan pulang dengan hati yang lebih ringan dan persaudaraan yang lebih kuat.
Kita percaya, di sini lah jawaban itu akan dimulai.
Dari Lirboyo, untuk keutuhan NU.

0 Komentar