Ticker

6/recent/ticker-posts

Kader PMII; Antara Ruang Dialektis (idealis) dan Pragmatis (politis)

Sebuah Refleksi BerPMII
Kader PMII; Antara Ruang Dialektis (idealis) dan Pragmatis (politis)

Oleh Sahabat Jamilun


PMII secara historis berdiri sebagai pemenuhan kebutuhan transformatif akan pentingnya wadah organisasi bagi mahasiswa-mahasiswa NU pasca pelajar, di mana sebelumnya mereka terwadahi oleh IPNU.

Awalnya berstatus banom NU namun dalam prosesnya PMII menegaskan diri independen melalui Deklarasi Murnajati pada 14 Juli 1972. Keputusan historis ini dilatari setidaknya 3 faktor utama. Pertama, adanya jebakan politik praktis di mana saat itu (awal orde baru) NU berstatus sebagai partai politik. Kedua, kebebasan berpikir bagi mahasiswa untuk menjaga daya kritis dan independensi gerakan akademik. Dan ketiga, Tekanan rezim orde baru terhadap organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan partai politik.
 
Independensi ini sangat penting dalam menjaga idealisme PMII sebagai organisasi mahasiswa yang dituntut memiliki sikap kritis dan objektif terhadap berbagai realitas dan dinamika persoalan dalam kehidupan masyarakat. 

Prinsip ini diperkuat lagi dengan paham keagamaan yang melandasi gerak kader PMII yaitu paham ahlussunnah waljama’ah. Meskipun secara ideologis keagamaan selaras dan menjadi bagian dari keluarga besar NU, pasca independen PMII menyusun sistem kaderisasinya sendiri dengan melahirkan diantaranya NDP. 

Membahas nilai dan sistem kaderisasi di PMII akan memerlukan sesi sendiri karena akan sangat panjang dan mendalam. Namun secara khusus dan singkat saat ini perlu dilakukan sebuah refleksi terkait jalannya sistem kaderisasi di PMII saat ini karena kalau dilihat outputnya saat ini masih jauh dari standar ideal yang diharapkan, bahkan yang mengkhawatirkan malah terjadi distorsi dan penyimpangan dari NDP dan standar nilai yang diajarkan.

Perhatikan dan refleksikan secara jujur apakah kader-kader PMII saat ini menunjukkan profil kader yang kritis, objektif, responsif dan independen dengan basis nilai yang kamil dan kaffah…? sepertinya kita semua sudah tau jawabannya. 

Apakah hal ini disadari oleh kader-kader kita sebagai kondisi objektif yang minus dan defisit atau tidak disadari…? 
okelah kita dapat memaklumi jika sahabat-sahabat kecil kita belum menyadarinya karena mungkin belum mendapatkan pendidikan kader yang ideal dan berstandar. Tapi bagaimana dengan sahabat-sahabat besar dan seniornya…? kalau juga sama belum menyadari bisa jadi kita sudah lama tertidur dalam jurang kemunduran… tentu ini sebuah ironi.

Perlu dicari akar permasalahannya ada di mana, padahal sistem dan standar nilai kaderisasi sudah ada, walaupun perlu adaptasi maka tentu dapat dilakukan proses transformasi dan penyesuaian. 

Diantaranya sepertinya memang ruang-ruang dialektis yang menjadi kawah candradimuka pembentukan mindset, mentalitas dan kualitas kader menjadi berkurang secara kualitatif. Yang ada kemudian diganti dengan maraknya ruang-ruang pragmatisme dengan menguatnya intervensi dan kooptasi yang direktif dan mengebiri nalar & sikap kritis serta independensi kader.

Tapi selalu ada harapan akan adanya kesadaran dari kader-kader penerus untuk menjadi diri sendiri dan mengembalikan marwah PMII sebagai organisasi kader. Saat inilah waktunya kader2 PMII menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah pribadi yang bermental kritis, peduli, responsif dan kuat dg ketajaman analisis serta independensi nyata.

Salam Pergerakan!



Posting Komentar

0 Komentar